Selasa, 18 Januari 2011

Indonesia Negara yang Kaya tapi Ora Sugeh

                Sudah sekitar 65 tahun Indonesia merdeka, tetapi tidak ada yang berubah dari bidang ekonominya, malah semakin miskin keanekaragaman hayatinya. Meskipun dianugrahi wilayah yang luas dan  keanekaragaman hayati yang tinggi, tak juga membuat Indonesia menjadi Negara yang kaya.
                Terletak di 6°LU - 11°08'LS dan dari 95°'BT - 141°45'BT. Dilintasi oleh garis khatulistiwa, memiliki sekitar 17.504 pulau dan beriklim tropis. Wajar saja kalau Indonesia memilki julukan Negara Mega Biodiversitas dan memilki tingkat keendemisan yang tinggi. Indonesia memiliki 10% tumbuhan, 12% mamalia, 16% reptilia, 17% burung, 25% ikan yang ada di bumi hidup di Indonesia, padahal luasnya hanya 1,3% dari luas bumi.
                Dengan modal yang cukup bahkan berlebih tersebut seharusnya Indonesia dapat menjadi Negara yang maju dan bukan Negara berkembang seperti sekarang. Tapi masalahnya adalah masyarakat Indonesia pada umumnya adalah tidak memperhatikan kekayaan-kekayaan yang ada di negaranya. Mereka terlalu asyik bereksperiman meamakai produk-produk luar negri tanpa memperhatikan kekayaan daerahnya. Kalau saja mereka mau bereksperimen menggunakan produk-produk lokal yang toh tidak kalah dengan produk-produk luarnegri, Indonesia tak akan  terpuruk dan kekurangan seperti sekarang.
                Kalau maysarakat Indonesia sedikit lebih menengok Negara tetangga, kita pasti akan malu dengan sendirinya. Karena, cobalah lihat Negara Thailand, Negara yang luasnya hanya--- dari luas keseluruhan Negara Indonesia, nyatanya kekayaan Indonesia jauh dibawah negri Gajah Putih itu. Tragisnya lagi, Indonesia malah mengimpor hasil-hasil bumi dari Thailand. Kalau kita peka, lihatlah lapak-lapak pedagang buah di pinggir-pinggir jalan. Kebanyakan dari mereka menjual hasil bumi made in Thailand. Kenapa? Itu semua karena kita gengsi untuk menggunakan produk lokal. Kenapa harus durian monthong Thailand, padahal Indonesia mempunyai durian Petruk dan mentega yang tak kalah legitnya. Kalau saja kita mau berkaca, alangkah memalukannya negri ini! Buruknya kualitas pendidikan, banyaknya utang luar negri, tingginya pengangguran, tingginya kasus korupsi dan buruknya penanganan hukum di Indonesia menambah buruk citra Indonesia di mata dunia.
                Walupun Negara Indonesia adalah Negara yang kaya akan keragaman hayatinya, tapi Indonesia tidak kaya dalam hal ekonominya. Hal ini dikarenakan Indonesia kurang bisa menghargai negaranya dan tidak bisa memanfaatkan apa yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita. Andai saja kita bisa sedikit lebih pintar untuk mengolah apa yang akan kita ekspor terlebih dahulu. Kenapa kita harus mengekspor karet jika kita mengimpor ban? Andai saja Negara ini punya penerus bangsa untuk mengolah dan mengelola negri ini, tak akan ada lagi kepunahan di negri ini. Jika kita hanya mengolah saja, diperkirakan banyak produk bumi yang akan punah.
Jadi, inilah tugas kita sebagai generasi penerus bangsa untuk memperbaiki Indonesia! Generasi muda, ayo berkarya!

Dampak Pertumbuhan Manusia Terhadap Keanekaragaman Hayati

Tak bisa dipungkiri, angka pertumbuhan penduduk Dunia kini melonjak drastis. Terutama di Negara-nagara di berkembang, tak terkecuali Indonesia.  Dampak dari peningkatan jumlah penduduk di Indonesia adalah menurunnya wilayah bagi flora dan fauna karena digunakan untuk kawasan perumahan dan industri.  Hal ini semakin mengenaskan karena pemerintah dan masyarakat belum begitu sadar tentang pentingnya keanekaragaman flora dan fauna di negaranya. Untuk saat ini yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana cara untuk mencari makan dan mempertahankan hidupnya. Kebanyakan dari mereka membuka areal hutan untuk daerah pertanian, pemukiman, transportasi dan industri. Dan melakukan eksploitasi yang berlebihan dan tanpa kendal I  terhadap keanekaragaman hayati tanpa melestarikannya kembali. Serta membuang limbah ke lingkungan tanpa diolah terlebih dahulu
Jumlah  penduduk di Indonesia pada tahun 2009 mencapai 203,6 juta jiwa. Angka ini pastinya akan terus meningkat apabila pemerintah tidak mencanangkan program-program yang bertujuan menghambat laju pertumbuhan penduduk di Indonesia. Caranya adalah dengan memberlakukan beberapa peraturan-peraturan  yang terkait, seperti undang-undang tentang kawin muda, aturan untuk KB. Dengan pemberlakuan peraturan-peraturan tersebut secara tegas dan benar, maka laju pertumbuhan penduduk akan berkurang.
Selain memperhatikan faktor-faktor diatas, pemerintah juga harus memperhatikan bagaimana caranya untuk menumbuhkan rasa care terhadap keanekaragaman hayati yang ada.
Tak Kenal Maka Tak Sayang
Sungguh tepat pepatah diatas untuk menggambarkan masyarakat Indonesia. Karena mereka belum mengenal berbagai jenis dan macam keanekaragaman hayati yang tumbuh dan berkembang di daerahnya, maka merekapun tidak mengetahui bagaimana caranya untuk memperlakukan flora/fauna tersebut.  Misalnya adalah tanaman anggrek hitam yang endemic pulau Kalimantan. Masyarakat setempat yang belum mengetahui bahwa tanaman tersebut adalah tanaman langka bahkan menganggap tanaman tersebut sebagai benalu dan mencabutinya. Apa yang mereka lakukan sebenarnya adalah salah, tetapi kita tak bisa 100% menyalahkan perbuatan mereka karena toh mereka juga belum tahu. Ini juga termasuk tugas pemerintah untuk melakukan penyuluhan-penyuluhan dan memberikan perngetahuan bagi mereka yang hidup diantara komoditas-komiditas yang berharga. Berbagai penyuluhan yang dapat diberikan antara lain tentang:
1.       Bagaimana cara untuk mengelola hutan tanpa merusaknya
2.       Bagaimana cara untuk ikut melestarikan keanekaragaman hayati yang ada
3.       Bagaimana cara untuk mengolah limbah
Hal diatas tersebut jika sudah terpenuhi maka otomatis keanekaragaman tak akan punah.  Selain itu juga perlu diterapkan sistem penjagaan terhadap hutan hutan dimana terdapat komoditas yang hampir punah.  Dan untuk menghidupkan kembali komoditi yang telah punah dapat dilakukan dengan cara:
·         Perlindungan Alam Umum
1.       Perlindungan alam ketat(in situ)
Digunakan untuk kepentingan ilmiah dengan keadaan alam ditempat yang bersangkutan
Contoh : pelestarian Badak Jawa di Ujung Kulon
2.       Perlindungan alam terbimbing
Melibatkan para ahli untuk membina keadaan alam.
Contoh: Kebun Raya Bogor
3.       Taman Nasional
Kawasan pelestarian yang dikelola untuk kepentingan pengetahuan, pendidikan dan pelatihan, serta sarana rekreasi dan pariwisata.
·         Perlindungan  Alam dengan Tujuan Tertentu
1.       Perlindungan alam geologi
Perlindungan terhadap formasi geologis di  daerah tertentu agar tidak rusak
Misal: Gunung Leuser
2.       Perlindungan alam botani
Perlindungan terhadap tumbuhan tertentu agar tidak punah
Misal: Ujung Kulon, Gunung Leuser, dan Tangkoko Batu Angus
3.       Perlindungan alam zoology
Perlindungan terhadap fauna yang hampir punah. Hewan yang dilindungi dapat didatangkan dari luar daerah
Misal: Ujung Kulon, Gunung Leuser, dan Tangkoko Batu Angus, Panua Gorontalo, Gunung Rinjani, dan Bali Barat
4.       Perlindungan alam suaka margasatwa
Perlindungan terhadap hewan yang hampir punah karena perburuan
Antara lain bekantan, elang jawa, anoa, harimau Sumatra, kakatua, siamang, kasuari
5.       Perlindungan ikan
Perlindungan terhadap ikan yang hamper punah. Setiap orang/ lembaga dilarang melakukan penangkapan memakai arus listrik, bahan peledak maupun bahan beracun
6.       Perlindungan hutan
Perlindungan yang menyangkut  air, tanah dan iklim

Jumat, 14 Januari 2011

Batik Kudus, Punahkah Dirimu?

     Lama sudah batik Kudus tenggelam dan menghilang di pasaran.  Namun seiring berkembangnya zaman, ada segelintir orang yang mulai peduli dengan kebudayaan daerahnya. Sebenarnya batik Kudus adalah batik yang unik. Batik Kudus mempunyai corak yang menggambarkan potensi alam lembah muria, kebudayaannya seperti Menara Kudus serta potensi perekonomiannya seperti daun tembakau.
            Batik Kudus berwarna sogan (kecokelatan) ciri khas batik Jawa Tengah, namun dihiasi corak dan pola dengan warna-warna cerah, seperti merah, kuning, dan lainnya. Corak yang terdapat pada batik Kudus merupakan corak perpaduan antara budaya China, budaya Islam dari jazirah Arab(ada sentuhan kaligrafi) serta pola mataraman dan pesisir. Kini setelah mengalami perkembangan, muncul beragam motif dan corak baru yang sesuai dengan tren masa kini. Motif baru yang telah dikembangkan contohnya adalah motif merak ngigel dan buketan, motif buket susimoyo, motif lunglungan kepala tumpa pasung maniman dan batik dengan motif-motif kuno lainnya. Selain motif kuno, saat ini sudah berhasil dikembangkan motif dlorong kembang, merak, kupu-kupu, buket crysan, kapal kandas, busana kelir hasil reproduksi, pakis haji muria, pari joto, ornamen kaligrafi, merak kateliu, merak pelataran, dan biji mentimun. Selain itu, ada pula motif batik buket beras kecer, dlorong buketan, sekar jagad, ayam malah, lunglungan, jangkar hasil reproduksi dan motif kapal kandas yang akan dipatenkan.
Yang berjaya pada tahun 1970-an ini merupakan ikon dan ciri khas kota Kudus. Setelah sekian lama hilang ditelan zaman, batik kudus mulai muncul kembali. Batik Kudus mulai diminati dan dikembangkan oleh masyarakat. Tren mode yang sekarang ini beralih ke busana batik, semakin memperlancar usaha para pembatik kudus untuk mempopulerkan  produknya ke masyarakat.
Harga untuk sepotong kain batik tulis berkisar Rp 200 ribu hingga Rp 5 juta per potong. Sedangkan batik kombinasi cap Rp 90 ribu- Rp 120 ribu per potongnya. Keuntungan batik sangat menjanjikan. Misalnya untuk batik tulis kita bisa mendapatkan keuntungan sekitar 50 persen sedangkan batik cap berkisar 25 persen. Jadi prospek batik Kudus ke depannya sangat bagus, karena batik Kudus kaya akan corak dan motif, jadi masyarakat tak akan bosan dengan motif yang hanya itu-itu saja. Lagipula pasar batik Kudus tidak akan terpengaruh adanya pasar bebas ASEAN- Cina. Apalagi pewarnaan alami sudah berhasil dan dikembangkan. Batik Kudus mempunyai keunggulan karena pewarnaannya menggunakan cara pewarnaan yang alami yang akan membuat warna pada kain menjadi lebih kalem dan lembut.
Dengan didukung oleh perkembangan zaman, kini batik Kudus dapat diterapkan ke dalam berbagai produk jadi yang langsung berguna bagi manusia dan aktivitasnya. Misalnya, kini terdapat berbagai macam produk teknologi yang bernuansa batik, tas, sepatu, jam, alat transportasi dan lain sebagainya. Dengan kreativitas yang tinggi, kita sebagai generasi penerus bangsa harus berkreasi untuk mengaplikasikan produk-produk warisan leluhur agar enak dipakai dan membuat orang lain ikut senang dan bangga untuk memakai produk tersebut. Jadi batik merupakan produk yang fleksibel untuk diaplikasikan ke dalam produk yang lain.
Namun disisi lain, masih banyak faktor yang menghambat pertumbuhan batik Kudus. Contohnya, sebagian besar masyarakat yang masih menganggap bahwa tradisi membatik itu adalah tradisi kuno yang hanya pantas dilakukan oleh orang yang sudah sepuh saja. Ini seolah menjadi tantantangan bagi kita untuk mengubah argumen itu, bahwa membatik dapat dilakukan oleh bermacam jenis usia, mulai dari anak berusia sekolah hingga para lansia sekalipun dan batik itu cocok dipakai dan dipadupadankan dengan apa saja. Selain itu, timbul pula masalah dari kalangan pemeritah. Mereka seakan tak peduli apakah batik Kudus itu punah atau tidak. Padahal kalau batik Kudus berjaya, mereka sedikit banyak akan mengambil keuntungan dari bidang kebudayaan. Selain faktor ini ada juga faktor regenerasi penerus. Bila seandainya hanya ada beberapa orang yang peduli akan batik Kudus, bagaimana jika orang-orang tersebut sudah meninggal? Akankah batik Kudus ikut terbenam bersama memori tentang mereka?

Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat kota Kretek seharusnya bangga dengan tradisi yang kita punyai itu. Dan tidak hanya sekedar bangga, kita pun harus berusaha mengembangkan batik Kudus agar tidak tertelan oleh zaman kembali. Apakah pantas, jika suatu saat malah orang asing yang menggunakan dan mengembangkan batik Kudus itu, sedangkan kita hanya berpangku tangan melihat hal itu dan kita baru bertindak setelah batik Kudus direbut dan diklaim sebagai budaya mereka? Setelah seperti ini, kita tidak bisa berbuat apa-apa, kalaupun kita mau protes, hal ini sulit sekali karena batik Kudus tak punya regenerasi pembatik. Jadi daripada kita diam berpangku tangan, mari kita lestarikan batik Kudus agar tak hilang oleh zaman kembali!